Aceh  

Dapur Umum IPDN Jadi Penopang Logistik Pascabencana Aceh Tamiang

Dapur Umum IPDN di Aceh Tamiang. (Foto: Dok Kemendagri)

ACEH TAMIANG, DURASI.co.id – Di tengah proses pemulihan pascabencana di wilayah Sumatra, Dapur Umum Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang beroperasi di Aceh Tamiang tidak hanya berperan memenuhi kebutuhan konsumsi ribuan personel Satuan Tugas (Satgas), tetapi juga turut menggerakkan perekonomian warga sekitar melalui pemanfaatan bahan pangan lokal.

Koordinator Dapur Umum IPDN, Purnomo, mengatakan operasional dapur umum dimulai pada 4 Januari 2026, tak lama setelah kloter pertama praja diberangkatkan ke Aceh Tamiang pada 3 Januari 2026. Pada hari pertama, dapur umum melayani sebanyak 500 porsi makanan. Seiring dengan bertambahnya jumlah praja dan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dikerahkan, sejak 5 Januari 2026 dapur umum beroperasi penuh dengan melayani 1.141 porsi untuk setiap waktu makan, yakni pagi, siang, dan malam.

Baca Juga :  Bupati Aceh Tamiang Imbau Masyarakat Waspada Penjarahan Pascabencana

“Menu yang kami sajikan mengikuti arahan pimpinan dengan standar pelayanan Kesatriaan IPDN Jatinangor. Untuk makan pagi terdiri atas sumber karbohidrat berupa nasi, sayur sebagai serat, serta protein. Pada makan siang terdapat tambahan lauk hewani dan nabati, juga buah. Pola yang sama diterapkan untuk makan malam,” ujar Purnomo saat ditemui di Sentra Dapur Umum IPDN, Aceh Tamiang, Senin (19/1/2026).

Ia menjelaskan, seluruh kebutuhan bahan makanan dapur umum dipasok dari wilayah sekitar Aceh Tamiang, seperti Langsa, Kuala Simpang, Pangkalan Brandan, hingga Medan. Bahan pangan tersebut meliputi beras, minyak, bumbu, ikan, lauk-pauk, buah, dan sayuran. Langkah ini sekaligus menjadi upaya mendorong perputaran ekonomi masyarakat di daerah terdampak bencana.

“Sesuai arahan pimpinan, kami berinteraksi langsung dengan masyarakat dengan mengambil bahan makanan dari mereka. Tujuannya untuk membantu menghidupkan perekonomian warga di wilayah terdampak, khususnya Aceh Tamiang dan sekitarnya,” katanya.

Baca Juga :  IDI Resmikan Program Integrasi Respons Bencana Hidrometeorologi di Aceh Tamiang

Menurut Purnomo, pengelolaan dapur umum di lapangan memiliki tantangan tersendiri dibandingkan dapur permanen. Keterbatasan sarana, kebutuhan gas, harga bahan pokok yang relatif lebih tinggi, serta ketersediaan bahan di pasar menjadi kendala yang harus dihadapi. Kondisi tersebut menuntut fleksibilitas dalam penyusunan menu.

“Sebagai contoh, beberapa hari lalu bahan seperti kol, kentang, dan wortel cukup sulit diperoleh. Kami kemudian menyesuaikan dengan sayuran lokal yang tersedia, seperti sayur paku atau pakis yang merupakan khas daerah sini. Kami berimprovisasi, dan alhamdulillah dapat diterima oleh seluruh personel Satgas,” ungkapnya.

Saat ini, Dapur Umum IPDN didukung oleh 18 kru yang bekerja secara bergantian untuk melayani kebutuhan makan pagi, siang, dan malam. Para kru bekerja hampir tanpa jeda, memanfaatkan waktu senggang untuk beristirahat sejenak sebelum kembali bertugas.

Baca Juga :  Pembalakan Hutan hingga Terjadinya Banjir Bandang: Hutan Gundul, Rakyat Terpukul

Persiapan makan pagi dimulai sejak pukul 22.00 WIB hingga sekitar pukul 04.00 WIB dini hari. Proses tersebut dilanjutkan dengan penyajian, pengemasan, dan distribusi. Sekitar pukul 06.30 WIB, praja dan anggota Satgas mulai mengambil jatah makan pagi beserta makanan ringan.

“Ada tim yang berangkat ke pasar sejak subuh untuk mencari bahan baku. Sekitar pukul 07.30 hingga 08.00 WIB bahan sudah tiba di dapur umum, lalu langsung dilakukan pembersihan, peracikan, pembuatan bumbu, dan proses memasak,” jelasnya. [Andre]