Opini  

Pahlawan Hari Ini Tidak Memanggul Bambu Runcing, tetapi Menjaga Akal Sehat

Redaksi Durasi
Aliman Oemar. (Foto: Dok Pribadi)

Oleh: Aliman Oemar

HARI Pahlawan pada 10 November 2026 kembali diperingati. Kementerian Sosial menetapkan tema resmi tahun ini, yaitu:

“Pahlawanku Teladanku, Melangkah Bersama, Melanjutkan Perjuangan.”

Tema ini bukan sekadar slogan upacara, melainkan cerminan bagi kita semua.

Kita selalu membayangkan pahlawan sebagai mereka yang gugur di Surabaya pada 10 November 1945. Darah, bambu runcing, dan pekik “Merdeka atau Mati” yang disuarakan Bung Tomo menjadi bagian dari ingatan sejarah bangsa. Dasar hukumnya jelas, yakni Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Namun, setelah 81 tahun, apakah kita masih memahami makna pahlawan dengan benar?

Sebagai wartawan utama yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia pers, saya melihat adanya pergeseran makna yang berbahaya. Kita terlalu mudah memberikan gelar pahlawan, tetapi terlalu sulit meneladani sifat-sifatnya.

Krisis Keteladanan

1. Tamparan Keras

Dahulu, para pahlawan rela mati karena tidak mau berkhianat. Hari ini, banyak di antara kita justru rela berkhianat demi tetap hidup nyaman.

Baca Juga :  Tanggung Jawab Hukum Sebenarnya untuk Siapa?

Korupsi kecil di kantor kelurahan, pungutan liar di sekolah, hingga jual beli jabatan merupakan bentuk pengkhianatan terhadap darah yang telah tertumpah di Surabaya.

Sebagai wartawan, saya menyaksikan krisis keteladanan ini setiap hari di ruang redaksi. Ketika berita bohong bisa menghasilkan jutaan klik dan uang iklan, berapa banyak media yang masih memilih untuk bersikap jujur?

Keteladanan para pahlawan adalah integritas yang tidak bisa ditawar. Jika dahulu mereka tidak menjual bangsa kepada penjajah, hari ini kita tidak boleh menjual kebenaran kepada algoritma.

Pahlawanku Teladanku berarti kita berhenti mencari pahlawan baru di luar sana dan mulai meneladani sifat-sifat pahlawan dalam diri kita sendiri: berani, jujur, dan rela berkorban.

Melangkah Bersama: Melawan Adu Domba Digital

2. Kunci bagi Indonesia Hari Ini

Pertempuran Surabaya dimenangkan bukan karena senjata yang dimiliki lebih canggih. Kita menang karena melangkah bersama. Santri, tentara, pemuda, dan ulama bersatu dalam satu perjuangan.

Hari ini, persatuan itu sedang dirusak secara sistematis. Bukan oleh Belanda, melainkan oleh hoaks, ujaran kebencian, dan politik pecah belah di media sosial. Kita mudah marah kepada sesama anak bangsa hanya karena perbedaan pilihan politik atau tafsir agama.

Baca Juga :  Pemilu 2024, Era Kepemimpinan Barukah?

Inilah perjuangan wartawan di era digital. Tugas kami bukan lagi sekadar melaporkan peristiwa, melainkan juga merajut kembali persatuan. Media yang sehat harus menjadi ruang temu, bukan ruang adu domba.

Saya berharap sekaligus mengingatkan adik-adik wartawan muda dan madya: jangan menjadi wartawan yang ikut membakar. Jadilah wartawan yang ikut memadamkan. Verifikasi sebelum membagikan informasi. Konfirmasi sebelum memublikasikan berita. Itulah bentuk “melangkah bersama” dalam dunia jurnalistik.

Melanjutkan Perjuangan: Perjuangan yang Tidak Pernah Selesai

3. Ajakan Bertindak

Mengisi kemerdekaan tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata, melainkan melalui kerja nyata. Kerja nyata itu dapat dimulai dari lingkungan sekitar kita.

Bagi guru, melanjutkan perjuangan berarti tetap mendidik dengan hati meskipun fasilitas terbatas.

Baca Juga :  Menjaga Objektivitas: Soerya Respationo Serukan Transparansi Lembaga Survei Dalam Penilaian Citra Penegak Hukum

Bagi petani, melanjutkan perjuangan berarti tetap menanam meskipun harga pupuk naik.

Bagi aparatur negara, melanjutkan perjuangan berarti melayani masyarakat tanpa meminta imbalan.

Sementara itu, bagi wartawan, melanjutkan perjuangan berarti satu hal: menjaga akal sehat publik.

Di tengah tahun politik dan maraknya disinformasi seperti sekarang, akal sehat menjadi sesuatu yang paling langka sekaligus paling berharga. Menjaga akal sehat publik melalui pemberitaan yang akurat, berimbang, dan beretika merupakan bentuk perjuangan kami sebagai wartawan.

Hari Pahlawan 2026 tidak boleh berhenti pada upacara, tabur bunga di Taman Makam Pahlawan, dan foto bersama. Hari Pahlawan harus menjadi momentum introspeksi: sudahkah langkah kita hari ini membuat para pahlawan di alam sana tersenyum bangga? Atau justru membuat mereka menangis karena apa yang telah mereka perjuangkan dengan darah kita sia-siakan begitu saja?

Serang, Banten, 31 Oktober 2026

Aliman Oemar adalah wartawan utama, pemimpin redaksi, anggota PWI, serta pemerhati isu kebangsaan dan etika pers.